Makhluk Sosial

Manusia secara teori disebut juga makhluk sosial. Makhluk yang butuh bantuan/pertolongan pihak lain, dan tidak bisa hidup sendiri. Jika ada yang mengatakan manusia tidak butuh pihak lain, orang tersebut digolongkan manusia takabur atau angkuh/sombong. Kemampuan manusia sangat terbatas sekalipun ada yang menyebutkan atau mengistilahkan “manusia super power“. Sisi inilah yang perlu direnungkan setiap manusia yang hidup dibumi dan tidak perlu menganggap pihak lain itu rendah dan hina. Pihak lain yang dimaksud dalam tulisan ini mencakup pihak manusia sekitar (teman, tetangga, dan masyarakat umum) , hewan/binatang, tumbuhan dan segala jenis yang penghuni sesemesta ini.

Menurut Aristoteles dengan Zon Politicon dalam kompasiana.com,   mengatakan pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia yang lainnya yang kemudian menghasilkan bentuk kelompok masyarakat. Hal ini disebut makhluk sosial.  [source: Kompasiana.com]

Dengan demikian manusia perlu atau butuh manusia lain untuk hidup baik disaat “sakit” maupun disaat “sehat”. Hidup bergotong royong dan saling bantu membantu merupakan budaya yang turun-temurun semenjak nenek moyang, dan merupakan konsep dari makhluk sosial yang dewasa ini budaya demikian kurang diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menurut penulis faktor makin pudarnya budaya gotong royong/saling membantu sesama dalam lingkungan masyarakat disebabkan faktor ekonomi yang menyebabkan rasa empati dan peduli antar sesama.

Pengaruh ekonomi masyarakat yang kian hari makin terjepit menjadi faktor manusia zaman now terlihat individualis, sikap/sifat ini dulunya menyelimuti manusia yang ada diperkotaan saja. Namun, sifat  individual ini pula sudah mulai merambah ke desa-desa, masyarakat seakan acuh tak acuh terhadap sesamanya dan mereka hanya repons pada keadaan kroni (keluarga/kerabat dan teman sejawat). Sikap yang berbentuk kebersamaan memudar dilingkungan mereka dikala sang pemimpin mengajak pada suatu kegiatan sosial. Memang manusia tidak salah, karena pada dasarnya konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang berfokus pada pengaruh masyarakat berkuasa kepada individu. Yang mana memiliki unsur keharusan biologis, terdiri; dorongan untuk makan; dan dorongan untuk mempertahankan diri. Unsur ini datang dari faktor personal (internal) yang mempengaruhi hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti tekanan emosional, harga diri, dan isolasi sosial. Tekanan emosional, yang membuat manusia bersimpati dan berempati dengan manusia lainnya, sehingga mendorong mereka untuk saling membantu sesamanya. Harga diri, ketika harga diri mereka rendah, maka akan terpacu untuk melakukan hubungan dengan orang lain sebab kondisi yang demikian membuat manusia butuh dukungan atau kasih sayang dari orang lain. Isolasi sosial, tujuannya untuk bersosialisasi dengan manusia lainnya yang memiliki pemikiran yang sepaham agar terbentuk interaksi sosial yang humanis dan harmonis.

Baca juga:  Manusia: Menjalani hidup dengan bersyukur

Manusia diciptakan oleh manusia adalah sama tujuan akhir yakni untuk menyembah-Nya. Tidak ada yang berstatus super power atau “raja segala raja” dikalangan manusia, sekali lagi statusnya sama terkecuali ketaqwaan pada Tuhan Allah SWT.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Intinya, makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri dan perlu atau butuh pertolongan pertolongan, melindungi, mencintai dan memberikan dukungan sesama (أَوْلِيَاء بَعْضٍ ). Perbedaan yang ada dalam kehidupan tidak menghalangi dari nilai manusia sebagai makhluk sosial, terlebih lagi beda pemahaman berfikir yang menjadi warna mengarungi hidup dan beribadah pada-Nya. Wallahul Alam.

Source: