SITEMAP PRIVACY POLICY TENTANG KAMI DISCLAIMER

Sang Pembaharu: Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap

Assalamu’alaikum Pembaca….!!! Kali ini Web MUNTADHAR MENULIS mengajak pembaca mengenal seorang sosok tokoh yang Sangat berjasa bagi Rakyat Aceh khususnya Rakyat Bireuen dan sekitarnya. Dialah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap putra dari Teungku (Tgk) Imuem Muhammad Hanafiah dan merupakan salah tokoh pembaharu pendidikan Islam di Aceh tercinta. Tgk. Abdurrahman lahir di Gampong Meunasah Meucap Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen sekitar tahun 1897 (1316 Hijriah) dan semasa hidupnya beliau memiliki keturunan 7 orang anak dari 4 orang isteri. Abdurrahman lahir dari keluarga cinta agama dan orang tuanyapun (Tgk. Imuem Muhammad Hanafiah) seorang guru agama yang tiap malam mengajar Al-Quran dan ilmu-ilmu agama untuk anak-anak sekitaran Gampong.

Pada usia 12 tahun, Tgk. Abdurrahman menuntut ilmu di Dayah Ulee Ceue Samalanga pimpinan Teungku Haji Araby, dua tahun di Dayah tersebut Tgk. Abdurrahman pindah ke Dayah Peudada dibawah asuhan Teungku Baden. Tidak lama di Dayah Peudada, ia pindah lagi ke Dayah Cot Meurak (Dua Kilometer dari Bireuen) dibawah pimpinan Teungku Haji Muhammad Amin, selama di dayah ini beliau juga pindah lagi ke beberapa dayah yang ada di Bireuen, namun terakhir ia kembali lagi menuntut ilmu di Dayah Cot Meurak (sebelum merantau ke Luar Aceh). Keahlian beliau selama belajar di Dayah yaitu bidang Fikih dan ilmu falak, namun untuk memperdalam ilmu-ilmu tersebut terutama ilmu falak ia harus pergi jauh meninggalkan kampung halamannya menuju Sumatera Utara. Di daerah ini ia belajar ilmu falak pada Syekh Hasan Maksum dan Syekh Usman, setelah belajar pada mereka ia kembali lagi ke Aceh dengan niat mengajarkan ilmu tersebut pada masyarakat.

Baca juga:  Teungku Syekh Peusangan

Mendirikan Lembaga Pendidikan dan Pembaharuan Sistem Pendidikan

Setelah mengarungi masa-masa belajar, beliau merasa dan terus berpikir ada hal yang mengganjal dalam dunia pendidikan Islam selama ini. Sistem yang selama ia bergelut dalam pendidikan perlu dibenah yang menurut dia perlu pembaharuan dunia pendidikan Islam saat itu yang lebih modern/maju. Berkaitan dengan hal tersebut dia terus berdiskusi dengan para cendikiawan, para penguasa dan kaum ulama mencari solusi dan titik temu memajukan pendidikan. Dari hasil diskusi timbul ide untuk memperbaharui sistem pendidikan dari model dayah ke model madrasah. Ide ini awalnya sebagian ulama kurang setuju dengan alasan sebagian menganggap segala sesuatu yang berbau Belanda haram hukumnya. Tahun 1926, Tgk. Abdurrahman membuka dayah di Meunasah Meucap, banyak santri-santri dari luar daerah menuntut ilmu ditempat beliau dan kepercayaan masyarakat tumbuh begitu cepat dari hari ke hari dayah tersebut banyak didatangi pelajar. Meunasah Meucap yang dulu begitu sepi akhirnya menjadi ramai dengan dipenuhi santri-santri seluruh Aceh yang belajar pada Tgk. Abdurrahman.  Meskipun begitu, motivasi Tgk. Abdurrahman untuk mencari solusi pembaharuan sistem pendidikan apalagi ada beberapa kalangan yang mendorong Tgk. Abdurrahman merubah sistem pendidikan dari dayah ke bentuk pendidikan madrasah (sekolah). Dorongan/saran-saran itu datang dari ulama-ulama semisal Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, Ayah Hamid serta para guru-guru sekolah umum (volkschool). Tgk. Abdurrahman berfikir membentuk kader-kader yang berilmu pengetahuan tidak cukup dengan pengetahuan agama saja, tetapi juga dibekali dan ditimpa dengan pengetahuan umum.

Ide perubahan sistem pendidikan hampir gagal salah satunya masalah fasilitas dan dana dalam pembangunan fisik madrasah. Namun, Ulee Balang (Penguasa Wilayah) Peusangan waktu itu Ampon Syik Peusangan menyanggupi segala bentuk fasilitas yang dibutuhkan untuk mendirikan lembaga pendidikan tersebut. Pada tanggal 24 November 1929 dibentuklah syarikat yang diberinama Syarikat Al-Muslim Peusangan untuk mengelola madrasah yang akan didirikan. Ketua syarikat tersebut Tgk. Abdurrahman sendiri dibantu Tgk. Nurdin sebagai sekretaris dan Ampon Syik Peusangan Teuku Muhammad Johan Alamsyah bertindak selaku Penasihat dan Penanggung Jawab.

Pada akhir tahun 1929 syarikat ini membangun 2 buah kelas tempat belajar siswa Madrasah Al-Muslim Peusangan sebagai cikal bakal dan tonggak sejarah Madrasah Al-Muslim Peusangan yang beberapa puluh tahun kemudian berubah menjadi Perguruan Jami’ah Almuslim. Adapun guru pertama yang mengajar pada lembaga ini antara lain: Teungku Habib Mahmud, Tgk Hasan Ibrahim Awe Geutah, Teungku Ibrahim Meunasah Barat, Teungku Abed Pante Ara, Teungku Abbas Berdan, Teungku Abdullah Musa sebagai pemimpin kepanduan, serta Tgk. Abdurrahman sendiri merangkap sebagai inspektur (kepala) yang sewaktu-waktu menggantikan mengajar jika ada guru yang berhalangan. Tahun 1931 lembaga pendidikan Al-Muslim mulai membangun gedung permanen, Tgk. Abdurrahman pergi ke Sumatera Barat meninjau perkembangan madrasah disana yang sudah lebih dulu maju seperti Sumatera Thawalib, Kulliyatul Muballighin Padang, Islamic College Bukit Tinggi dan Diniyah Putri Kayu Tanam. Hasil study banding Tgk. Abdurrahman yang bertujuan mencontoh bangunan/gedung yang tepat sebagai madrasah modern yang akan dibangun di Almuslim Aceh nantinya serta melihat langsung penerapan sistem pendidikan/sistem belajar mengajar.

Baca juga:  Tokoh Aceh: Prof. Dr. H. Ismuha, SH

Tidak lama kemudian, Al-Muslim berkembang ke daerah lain dan membuka cabang berbagai wilayah seperti Cot Meurak Bireuen, Bugak, Bale Setui, Cot Batee Kuala, Krueng Baroe, Uteuen Gathom, dan Lueng Leubu. Tahun 1980-an, seingat penulis madrasah ini berubah menjadi Perguruan Jamiah Al-Muslim yang mengelola beberapa lembaga pendidikan mulai dari Madrasah Tsanawiyah, Sekolah Menengah Atas, dan beberapa perguruan tinggi seperti Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Fakultas Pertanian dan beberapa jurusan lainnya. Perkembangan lembaga pendidikan tinggi, masih dalam kenangan penulis bahwa STIT Al-Muslim yang paling banyak mahasiswanya dan cukup dikenal dalam kalangan masyarakat Peusangan dan sekitar. Banyak mahasiswa yang menuntut ilmu di Almuslim bagi mereka yang kurang biaya untuk kuliah di Darussalam Banda Aceh. Waktu kecil penulis, tempo doeloe sering bermain layang-layangan sambilan bercanda dengan para mahasiswa Tarbiyah dalam komplek Perguruan Jami’ah Al-Muslim.

Sering waktu berjalan, tahun 2000-an Perguruan Tinggi Jamiaah Almuslim berkembang pesat dan pihak pengelola Al-Muslim membentuk Universitas Al-Muslim Peusangan, namun sayang Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Muslim terlihat kian disisihkan dalam komplek perguruan Al-Muslim dan harus pindah lokasi dengan menjauh dari  komplek tersebut. Menurut Penulis selama tahun 1980-an sampai sebelum dibentuknya Universitas, STIT cukup eksis dan komit dalam membangun kebesaran Al-Muslim yang dirintis Tgk. Abdurrahman dan Ampon Syik Peusangan dengan cita-cita beliau membangun madrasah modern yang melahirkan generasi modern yang berpengetahuan umum dan berpengetahuan/menguasai ilmu agama. Seandainya tidak ada STIT tersebut selama kurun waktu 1980 sampai tahun 2000-an nama besar Universitas Al-Muslim Peusangan tidak akan muncul. Kerja keras pengelola STIT Almuslim waktu itu terasa tidak ada harga dalam membesarkan Perguruan Jamiah Almuslim atau yang kini di ubah menjadi Yayasan Al-Muslim Peusangan. Mengapa STIT Almuslim atau kini berubah IAI Almuslim Aceh harus pindah lokasi, mungkin pihak yayasan almuslim lebih tahu dan kami sebagai masyarakat hanya menonton saja. Wallahul A’lam

Teungku Abdurrahman dalam PUSA

Semenjak Teungku Abdurrahman terjun dalam masyarakat dan melihat ada halangan yang merintangi kemajuan dalam bidang agama. Halangan dimaksud adalah timbulnya berbagai khilafiat (antagonisme), bid’ah dan khurafat yang telah lama ditabur oleh kaum penjajah. Menurut Tgk. Abdurrahman halangan yang demikian dapat merugikan umat Islam sendiri yang akhirnya timbul perpecahan dikalangan umat, dan perlu dibentuk suatu wadah bermusyawarah dengan tujuan apabila suatu waktu ada hal-hal yang mengganjal dan kesulitan dalam masyarakat dapat diselesaikan bersama. 

Dari berbagai permasalahan yang dihadapi umat Islam di Aceh, beberapa ulama bersepakat untuk mengembangkan ajaran Islam yang murni dan suci sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan membasmi berbagai khilafiat, bid’ah, dan khurafat diantara pendapat-pendapat ulama. Selain itu PUSA juga ingin menyeragamkan sistem pendidikan dan mata pelajaran (leerplan) disekolah-sekolah Islam yang banyak didirikan di Aceh pada masa itu.
Gagasan-gagasan atau ide untuk melakukan pembaharuan diawali dengan sepucuk surat yang dikirim Syekh Abdul Hamid Samalanga dari Mekkah kepada Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap yang isi suratnya seputar informasi kemajuan Ikhawnul Muslimin di Mesir dan ajakan memajukan pendidikan di Aceh. Sehingga pada suatu hari Tgk. Abdurrahman suatu hari menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Blang Jreun Aceh Utara yang disambut oleh Tgk. Ismail Ya’kub. Keduanya terlibat pembicaraan mengenai ide untuk mendirikan sebuah organisasi ulama sebagai wadah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Aceh serta dapat mempersatukan pengurusan madrasah-madrasah yang ada diseluruh Aceh. (Lihat link berikut)

Sepulang dari kegiatan dimaksud, Tgk. Abdurrahman menyampaikan hasil diskusinya dengan Tgk. Ismail Yakub kepada kawan-kawan/pengikutnya di Matangglumpang Dua, diantaranya adalah Tgk. Usman Azis (alumnus Thawalib Padang) seorang guru Madrasah Al-Muslim Peusangan. Setelah mendengarkan hasil pembicaraan tersebut, mereka sepakat untuk menyebarluaskan ide pembentukan organisasi Ulama tersebut ke seluruh penjuru Aceh. Penyampaian tersebut langsung disambut baik oleh Tgk. Muhammad Daud Beureu’eh dan beberapa tokoh lainnya. Tgk. Abdurrahman langsung mengundang kaum Ulama yang terkemuka di Aceh untuk menghadiri musyawarah antar Ulama yang dilangsungkan pada tanggal 5 Mei 1939 di Matangglumpang Dua sekaligus ditetapkan secara resmi lahirnya PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). Hasil musyawarah ulama menetapkan Ketua PUSA Tgk Muhammad Daud Beureu’eh, setia usaha (Sekretaris) Tgk. M. Nur El-Ibrahimy, sedangkan Tgk. Abdurrahman menjabat Ketua II.

Awal mulanya tujuan dibentuk organisasi ini untuk menyiarkan, menegakkan, dan mempertahankan syiar Islam yang suci terutama di Aceh. Lambat laun organisasi ini mengepak sayapnya ke berbagai bidang dengan tujuan mempesatukan paham-paham ulama Aceh dalam menerangkan hukum-hukum, dan berusaha memperbaiki leerplan sekolah-sekolah agama seluruh Aceh. PUSA berhasil memperjuangkan Syukyo Hooin (Mahkamah Agama pada masa Jepang) dan Tgk. Abdurrahman menjabat sebagai kepalanya. Sesudah Pejabat Agama Daerah Aceh yang dikepalai oleh Tgk. Muhammad Daud Beureu’eh, Dewan Agama Islam dihapus dan Tgk. Abdurrahman diangkat menjadi Kepala Pejabat Agama Islam Keresidenan Aceh.

Pada saat pembentukan Provinsi Sumatera Utara pertama kali dan pejabat agama berubah strukturnya, Tgk. Abdurrahman dicalonkan menjadi kepala tata hukum pada jabatan Agama Sumatera Utara, namun beliau dalam keadaan sakit dan beristirahat di Takengon. Sakitnya ternyata tidak sembuh-sembuh sampai ia menghadap sang Pencipta Allah SWT pada tanggal 24 Maret 1949 dan dimakamkan dibelakang komplek Madrasah Al-Muslim.

Semoga Bermanfaat, maaf jika ada kesalahan. Sekian dan Terima Kasih

Referensi / Daftar Bacaan:

  1. Web muntadhar.blogspot.com
  2. A.K. Jakobi, Aceh dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 299.
  3. Yusuf Hasanuddin Adan, Aceh dan Inisiatif NKRI, (Banda Aceh: Adnin Foundation Publisher, 2011), h. 186.
  4. Buku Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad XX Jilid I, Pengarang, Shabri A, dkk, Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh 2003.
  5. Tim Penulis Ensiklopedi Nasional Indonesia, Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid I, (Jakarta: Cipta Adi Pustaka, 1990), h. 143.
  6. Muhammad Rizal, Persatuan Ulama Seluruh Aceh Pada Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945-1949, (Skripsi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, 2008), h. 38.
  7. Agus Bwaceh
Baca juga:  Kegunaan Lain Coca-Cola dan Mungkin Kita Tidak Mengetahuinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POSTING TERKAIT

Teungku H. Abdussalam Meuraxa

Dalam tulisan ini, web Muntadhar Menulis mengajak pembaca mengenal Teungku (Tgk.) H. Abdussalam Meuraxa salah satu ulama di Abad 19. Tgk.…

Tokoh Aceh: Prof. Dr. H. Ismuha, SH

Silsilah Keluarga dan Latar Belakang Pendidikan. Ismuha lahir di Gampong (Desa) Pantee Piyeue Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen (sekitar 2 km…