SITEMAP PRIVACY POLICY TENTANG KAMI DISCLAIMER

Teungku Syekh Peusangan

Silsilah Keluarga dan Latar Belakang Pendidikan

Dalam suasana perang menghadapi Belanda, seorang wanita bernama Cut Pudoe tahun 1892 melahirkan seorang bayi di Gampong Lueng Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. Bayi yang baru lahir diberi nama HAMZAH. Ayah bayi tersebut salah seorang Panglima Sagoë yang bergelar Teungku Panglima Bëude (gelar tersebut disandang karena beliau aktif di medan perang). Panglima Bëude punya 13 anak dari 3 orang isteri, Dengan Isteri pertama bernama Cut Pudoe mempunyai anak yakni Teungku Bulang dan Teungku Hamzah (Teungku Syekh Peusangan), selebihnya anak dari Panglima Bëude dari isteri kedua beliau Cut Hamidah (berasal dari Nicah Peusangan) dan isteri ketiga Cut Peeh (Gampong Paya Seulimbot Peusangan).


sebagai ilustrasi

Teungku (Tgk) Hamzah Bin Panglima Bëude semasa kecil dibekali dasar-dasar ilmu agama, Ayahandanya menyerahkan Tgk Hamzah pada ulama-ulama setempat untuk didik ilmu Al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama. Hamzah melanjutkan Sekolah Dasar di Volkschool di Jangka selama tiga tahun dan selanjutnya menuntut ilmu di Dayah Kuta Blang Samalanga untuk berguru kepada Teungku Haji Abdul Djalil yang bergelar Teungku Awee Geutah atau Teungku Di Meurah atau Teungku Kuta Blang (Gelar yang diperoleh tgk Abdul Djalil ada pendapat bahwa beliau lahir di Awee Geutah dan bermukim di Meurah serta mengajar di Kuta Blang). Pada Tahun 1916 Tgk. Hamzah bin Panglima Bëude kembali ke kampung halamannya di Gampong Lueng, dan setahun kemudian (1917) beliau menikah dengan Cut Farida asal Gampong Pante Ara Peusangan. Setelah menikah Tgk. Hamzah pindah ke Balee Seutui Kecamatan Peusangan untuk berniaga dan menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama belajar di Dayah Kuta Blang Samalanga. Tgk. Hamzah mempunyai 11 orang anak dari 2 isteri; dari isteri pertama Cut Farida ada 6 orang anak yaitu M. Daud Hamzah, Abdullah Hamzah (Alumni PTAIN Yogyakarta 1956), Muhammad Nur Hamzah, MA (Alumni Universitas Moskow Rusia), Khadijah Hamzah, Aisyah Hamzah (Alumni Al Muslim Peusangan). Dengan isteri kedua yakni Ummiah Ahmad di Kuala Raja, Tgk. Hamzah mempunyai anak 5 orang anak yaitu M. Ali Hamzah, Zubaidah Hamzah, Drs. Muchtaruddin Hamzah, Hanafiah Hamzah, dan Mamfarisyah Hamzah.

Baca juga:  Dasar-Dasar Penilaian Pendidikan

Kiprah dalam Dunia Pendidikan, Politik dan Organisasi

Tgk. Hamzah sangat aktif berdakwah, dengan kemahirannya berpidato dan selalu tampil pada rapat-rapat umum di wilayah Peusangan bahkan sampai ke Indrapuri. Setelah selesai pidato di Indrapuri, ia diberi gelar “Teungku Syekh Peusangan” oleh para ulama. Selama bermukin di Balee Seutui Kecamatan Peusangan, Tgk. Hamzah berhasil membina kehidupan masyarakat ke arah lebih baik. Atas keberhasilan tersebut, Teuku Haji Chik Muhammad Johan Alamsyah (Ampon Chiek Peusangan) meresmikan Tgk. Hamzah dengan gelar “Teungku Syekh Peusangan”.

Gelar yang diberikan dan ditetapkan oleh Ampon Chiek tersebut diultimatum pada masyarakat; “Barang siapa yang tidak memanggil Tgk. Hamzah dengan gelar Teungku Syekh Peusangan akan dikenakan denda sebanyak satu ringgit (dua rupiah lima puluh sen) kepada Tgk. Hamzah.” Ampon Chiek sendiri pernah lupa memanggil dengan gelar yang telah beliau tetapkan, sehingga saat itu juga beliau membayar denda sebaganyak satu ringgit.

Tgk. Hamzah (Teungku Syekh Peusangan) selain seorang ulama, juga seorang usahawan yang sukses. Berbagai jenis pekerjaan ditekuninya diantaranya pedagang kain batik, membuka warung kopi, warung nasi, sebagai nelayan, pengusaha kayu, kontraktor jalan bahkan bertani. Dari usaha-usaha tersebut Teungku Syekh Peusangan sangat berjasa dalam menampung tenaga kerja dan dapat meringankan beban masyarakat ekonomi lemah, namun yang paling penting dalam sisi pengembangan dakwah Islamiyah. Disela-sela kesibukannya mencari rezeki beliau meluangkan waktu sebaik-baiknya untuk berdakwah terutama di kalangan para pekerja. Kepada mereka diajarkan ajaran Islam, bagaimana cara beribadah baik ibadah mahdhah maupun ibadah-ibadah lain dalam arti luas. Usaha yang dilakukan oleh Teungku Syekh Peusangan dan turut dibantu oleh tokoh masyarakat serta murid-murid antara lain pembangunan Masjid Bale Seutui tahun 1925. Bangunan Masjid tersebut sangat besar manfaatnya bagi masyarakat hingga sekarang masjid tersebut masih utuh dan tetap dipergunakan. Sebelum Kabupaten Bireuen terbentuk dan masih bergabung dengan Kabupaten Aceh Utara, masjid ini merupakan masjid paling Indah waktu itu walaupun ukuran masjid 10 x 10 m. Setelah beliau meninggal, pada tahun 1953 masjid ini baru diperbesar menjadi 16 x 13 m.

Baca juga:  Sang Pembaharu: Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap

Pada tahun 1926 Teungku Syekh Peusangan mendirikan madrasah At-Tarbiyah Balee Seutui yang bangunannya disamping Masjid Bale Seutui. Tahun 1927 madrasah ini menerima murid pertamanya dengan memberikan mata pelajaran: tauhid, fiqh, sharaf, nahwu, sejarah Islam dan ilmu bumi. Tenaga pengajar madrasah ini antara lain Teungku Syekh Peusangan sendiri, Ustadz Mahyiddin Yusuf, Guru Yusuf, Teungku Daud Abbas (Teungku Blang), Teungku Puteh dan Teungku Muhammad Jamil. Untuk kelangsungan pembinaaan Madrasah At-Tarbiyah ini, Teungku Syekh Peusangan membentuk kelompok-kelompok belajar di Balee Seutui dan Gampong sekitarnya dengan memfungsikan para imuem meunasah untuk membantu beliau mengajar yang selalu mendapat pengarahan dari beliau.

Pada tahun 1929 Teungku Syekh Peusangan mendirikan Madrasah Al-Muslim, melalui penerangan yang diberikan kepada masyarakat banyak anggota masyarakat yang menginfakkan hartanya untuk madrasah tersebut. Dalam pembinaan masyarakat, Teungku Syekh Peusangan menerapkan pendekatan pada remaja, karena remaja mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat. Selain itu Teungku Syekh Peusangan memperkenalkan cara berdakwah melalui kelompok-kelompok kesenian yang dibentuknya. Usaha lain yang dilakukan Teungku Syekh Peusangan mendirikan Meunasah di Geulanggang Teungoh Kota Juang, dan pada tahun 1952 dibangun pula jembatan dan bendungan air di Jangka Alue Bie yang bermanfaat bagi perkembangan dan kehidupan masyarakat daerah tersebut.

Catatan: ditulis kembali dari buku “Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad XX Jilid I”, Karangan Shabri A, dkk. Halaman tulisan: 99-102

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

POSTING TERKAIT

Sang Pembaharu: Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap

Assalamu'alaikum Pembaca....!!! Kali ini Web MUNTADHAR MENULIS mengajak pembaca mengenal seorang sosok tokoh yang Sangat berjasa bagi Rakyat Aceh khususnya…

Teungku H. Abdussalam Meuraxa

Dalam tulisan ini, web Muntadhar Menulis mengajak pembaca mengenal Teungku (Tgk.) H. Abdussalam Meuraxa salah satu ulama di Abad 19. Tgk.…