Sang Pembaharu: Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap

6 total views, no views today

6 total views, no views today Assalamu’alaikum Pembaca….!!! Kali ini Web MUNTADHAR MENULIS mengajak pembaca mengenal seorang sosok tokoh yang Sangat berjasa bagi Rakyat Aceh khususnya Rakyat Bireuen dan sekitarnya. Dialah Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap putra dari Teungku (Tgk) Imuem Muhammad Hanafiah dan merupakan salah tokoh pembaharu pendidikan Islam di Aceh tercinta. Tgk. Abdurrahman lahir di Gampong Meunasah Meucap Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen sekitar tahun 1897 (1316 Hijriah) dan semasa hidupnya

Teungku H. Abdussalam Meuraxa

8 total views, 5 views today

8 total views, 5 views today Dalam tulisan ini, web Muntadhar Menulis mengajak pembaca mengenal Teungku (Tgk.) H. Abdussalam Meuraxa salah satu ulama di Abad 19. Tgk. H. Abdussalam Meuraxa berasal dari Meuraxa Kuta Raja, saat-saat kecil beliau menghabiskan dengan belajar agama Islam dari orang tuanya. Merasa belajar agama Islam dari orang tuanya belum cukup, beliau menuntut ilmu di beberapa dayah diantaranya Dayah Lambirah dan Dayah Jeureula. Di dayah tersebut beliau menguasai dasar-dasar

Tokoh Aceh: Prof. Dr. H. Ismuha, SH

5 total views, 1 views today

5 total views, 1 views today Silsilah Keluarga dan Latar Belakang Pendidikan. Ismuha lahir di Gampong (Desa) Pantee Piyeue Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen (sekitar 2 km dari kota Matangglumpang Dua) pada tanggal 20 Desember 1923 (12 Jumadil Awwal 1342 H). Nama asli beliau Ismail anak dari Tgk. Muhammad Syah dan Cut Afifah, seperti kebiasaan orang Aceh dibelakang namanya selalu dicantumkan nama ayah menjadi Ismail Muhammad Syah disingkat dengan ISMUHA.

Teungku Syekh Peusangan

14 total views, no views today

14 total views, no views today Silsilah Keluarga dan Latar Belakang Pendidikan Dalam suasana perang menghadapi Belanda, seorang wanita bernama Cut Pudoe tahun 1892 melahirkan seorang bayi di Gampong Lueng Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen. Bayi yang baru lahir diberi nama HAMZAH. Ayah bayi tersebut salah seorang Panglima Sagoë yang bergelar Teungku Panglima Bëude (gelar tersebut disandang karena beliau aktif di medan perang). Panglima Bëude punya 13 anak dari 3 orang isteri,