6 total views, 2 views today

Semula studi perbandingan agama diabaikan orang, walaupun telah banyak sarjana berusaha mendeskripsikan esensi agama. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menetapkan suatu batas, ukuran dan standar umum yang dapat diakui semua agama. Beraneka ragamnya agama menyebabkan sulit menetapkan unsur-unsur asasi sebagai esensi agama. Sesuatu yang dianggap sebagai esensi sesuatu agama, dalam agama lain ini tidak, misalnya dewa, upacara dan ritus. Apalagi setiap agama memiliki system yang hanya dapat diketahui dengan memahami konteksnya. Oleh karena itu kepercayaan kepada sesuatu dewa dalam agama tertentu harus dilihat pada kontek kepercayaan kepada Sang Pencipta/Tuhan dalam agama lain.

Setiap agama memiliki keunikan tersendiri, memiliki sifat totalitarian dan organic. Sifat inilah yang membedakan suatu agama dengan agama lain. Keunikan ini hanya dapat diketahui dengan suatu perbandingan sehingga ditemukan persamaan dan perbedaan. Dengan demikian studi perbandingan agama mendapat perhatian orang.

Perhatian para sarjana kian bertambah-tambah ketika mereka menyadari bahwa untuk memahami humanitas secara umum dengan segala problema-nya, haruslah melalui pemahaman agama dan budayanya sebagai fenomena social yang sangat mendasar. Lebih-lebih lagi setiap agama itu memiliki objektifitas dan subjektifitasnya. Objektivitasnya bisa sesuai dengan agama lain, tetapi subjektifitas merupakan punca perbedaan. Hal ini terlihat dalam fenomena amalan yang melibatkan pengalaman dan perasaan batin, misalnya tentang adanya Tuhan. Kriteria yang ada dalam suatu agama sangat kabur, sehingga sulit dideteksi secara objektif sebagai suatu pengakuan empiris (The New Encyclopedia Brittanica,Vol. XV, hal. 613)

Akibat adanya subjektivitas agama, maka studi perbandingan agama menghadapi dua ilmu lain yaitu filsafat agama dan theology. Sehingga studi harus diarahkan kepada deskriptif, historis dan normative. Sebab penekanan studi berkaitan dengan perilaku beragama seseorang dan hubungannya dengan zat yang transenden (Tuhan, sacral, kudus, suci) dengan bantuan ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi dan arkeologi. Dengan demikian ilmu ini tidak hanya mempersoalkan masalah teologia, tetapi lebih dari itu yang ada hubungannya dengan humanities, sebagai ilmu yang berdiri sendiri.

  • Tugas Pokok Ilmu Perbandingan Agama

Di dalam ilmu ini terdapat suatu prinsip menstudi  dirinya sendiri sehingga orang akan memiliki kesadaran diri dalam kehidupan agamanya yang sedang berkembang dan dalam kehidupan agama yang beraneka ragam. Ilmu perbandingan agama merupakan subjek yang kuat dalam bidang humanities. Kelambanan perkembangannya disebabkan oleh penelitian ilmiah dan penilaian-penilaian data yang relevan. Namun karena adanya suatu apresiasi sulit mengingkari kenyataan bahwa pemahaman agama dalam kehidupan sehari-hari harus dipahami. Sebab problema sehari-hari tidak bisa dilepaskan dengan agama dan social budaya. Sehingga manifestasi kehidupan beragama sangat ditentukan oleh perubahan daya hidup baik social, ekonomi dan budaya. Kultur, totalitas dapat dibentuk oleh agama sehingga menghasilkan suatu pola individu tertentu. Untuk itu dalam mendekati suatu agama harus melalui cara tertentu dan harus berbeda dengan pendekatan theologies.

Disinilah tugas pokok ilmu ini, untuk menjelaskan segala macam persoalan sosial keagamaan, baik yang sifatnya transcendental antara manusia dengan Zat Yang Maha Kuasa, maupun yang bersifat horizontal antara manusia sesamanya dan dengan alam. Ilmu ini tidak berusaha mencari kebenaran sesuatu agama, karena kebenaran itu merupakan masalah teologi yang menggunakan jalan yang jarang ditempuh oleh ilmu pengetahuan. Agama dalam pandangan ilmu ini adalah sama.

Oleh karena itu ilmu ini tidak dapat menambah keimanan seseorang, sehingga orang yang tidak beragama tidak akan memperoleh kepercayaan dari ilmu ini. Para ahli ilmu perbandingan agama tidak berusaha dalam setiap bahasannya untuk menyakinkan maksud agama sebagaimana usaha penganut agama itu sendiri. Penyelidikan perbandingan agama hanya untuk suatu perbandingan, bukan untuk menjadi ulama, pastor, pendeta, resi, biksu sesuatu agama. Sebab untuk menjadi alim ulama sesuatu agama memerlukan waktu yang panjang. Sedangkan ilmu ini hanya mencatat fenomena-fenomena yang ada dalam setiap agama. Secara minimal dapat menimbulkan daya nalar dalam memperbandingkan berbagai fenomena agama baik persamaan maupun perbedaannya.

  • Fungsi Ilmu Perbandingan Agama

Kedudukan dan tugas Ilmu Perbandingan Agama di antara ilmu pengetahuan lainnya di abad ini tidak bisa diremehkan. Malah ilmu ini telah dimasukkan dalam kelompok “Corpus of Humanities”, yang makin memperjelas fungsinya. Kedudukannya mendapat dukungan dari International Association for the History of Religion yang berdiri tahun 1900 yang berkongres lima tahun sekali (Ditbinpertais 1978/1983, hal 87).

Fungsi utama yang telah dan akan dijalankan adalah memahami kehidupan batin, nalar pikiran dan kecenderungan hati umat beragama. Sehingga dapat diketahui segi-segi persamaan dan perbedaan antar agama. Lebih dari itu lagi, ada agama yang datang lebih dahulu merupakan pengantar terhadap kebenaran agama yang datang kemudian. Ilmu Perbandingan Agama merupakan salah satu alat yang tepat memecahkan masalah yang terjadi dalam zaman kemajuan teknik tinggi. Dunia sekarang terasa terlalu kecil karena hubungan manusia semakin dekat dan cepat.

Hubungan antar kelompok dan antar manusia sering terjadi. Tukar menukar informasi tentang ide, pikiran dan agama, tidak begitu aneh. Akibatnya berbagai soal  selalu timbul. Soal perteman sesuatu ide, pikiran dan agama yang beraneka ragam memerlukan pemecahan dan harus dihadapi dengan secara wajar, ilmu ini dapat memegang peranan. Ilmu ini juga berusaha mencari hubungan antar agama dan mencoba mengungkapkan terminology-terminology dan istila agama dalam bahasa yang sederhana sehingga tidak membingungkan bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu ini melalui agama yang diperlukan.

Baca Juga:  Tokoh Aceh: Prof. Dr. H. Ismuha, SH

Analisis berbagai model agama akan terlihat berbagai keyakinan yang baru mulai, ada yang baru memasuki perempat final, semi final dan ada yang sudah final. Hal ini dapat ditelusuri melalui kitab suci masing-masing agama, ethis, philosofis dan pragmatis. Ada yang memerlukan interpretasi dan ada yang perlu digali kembali dan ada yang mudah dipahami tanpa penafsiran.

Arnold J. Teynbee dalam bukunya “An Historian Approach  of Religions” menulis – walaupun ia bukan ahli agama –  tiga agama besar yang dating dari sumber yang sama yaitu Yahudi, Kristen dan Islam, punya kecenderungan ke ara exclusivism dan tidak toleran. Masing-masing pemeluk agama menganggap agama-nyalah yang benar, yang lain salah. Pandangan ini pada mulanya memang ada benarnya. Tetapi bagi ahli agama masa kini yang menganalisis totalitas dan manifestasi agama dalam kehidupan di dunia ini, teks kitab suci dan lain-lain akan menunjukkan masa depan yang lain. Lebih-lebih lagi adanya kerjasama disiplin ilmu yang beragam dapat dimanfaatkan metode penelitian agama kian teratur. Dengan pembahasan ilmu ini secara mendalam dan luas, orang akan sadar bahwa agama memiliki kekayaan yang mengagumkan yang tidak diperoleh dalam ilmu lain, dapat menjadi sebab timbulnya rasa saling menghargai. Polemic, apologi dan elenktik yang emosional akan dinilai sebagai tindakan kurang baik.

Fungsi ilmu perbandingan agama ini dapat menyingkap tali perhubungan yang ada diantara agama agama. Memang antara satu agama dengan agama lainnya terbanyak perbedaan tetapi tidak kurang pula persamaannya. Sebagai contoh dapat dikemukakan beberapa persamaannya walaupun diungkapkan dengan terminology dan istilah berbeda:

  1. Adanya Kepercayaan kepada Zat yang transenden, Yang Suci, Tao (Cina), Rtam (India), Logos (Greek Kuno) Yahweh (Yahudi), Ahura Mazda (Iran Kuno/Persia), Allah (Islam, Kristen), Vishnu, Krisna, Varuna (Hindu).
  2. Zat yang maha tinggi itu merupakan kebaikan yang tinggi, kebenaran yang tinggi terdapat dalam ajaran Lao Tse, Hindu, Budha, Kristen dan Islam.
  3. Zat Yang Maha Tinggi itu memiliki sifat kasih sayang kepada manusia dan alam
  4. Jalan untuk mencapai Tuhan harus dilalui perantaraan korban. Jalan keselamatan juga harus melalui korban.
  5. Tujuan amal ibadah bukan hanya untuk kebahagiaan hari kemudian saja tetapi juga untuk kebahagiaan dunia, Kesathra Vairya (Mazdaism), malkuth Yahwe (Yahudi), basileia tou theou (Kristen Ortodoks) dan hasanah fi ad-dunya wa al-akhirah (Islam). (Baca: A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, Yogyakarta: Nida, 1970 hal, 38-42).

Alasan-alasan lain dikemukakan pula dengan bentuk lain, seperti yang dikatakan oleh Richard E. Creel bahwa Ilmu Perbandingan Agama memiliki fungsi penting yaitu:

  1. Untuk pendidikan tinggi ilmu ini mengajar kenal beberapa aspek dasar eksistensi manusia yang paling kuno, universal dan abadi.
  2. Mempelajari ilmu ini berarti ingin memahami agama lain, pemeluk agama lain secara mendalam, sehingga dapat berkomunikasi dan tukar informasi dengan baik.
  3. Untuk kepentingan pribadi ilmu ini sangat diperlukan, karena masalah agama, banyak kaitannya dengan beberapa hal, selalu hadir dalam sanubari manusia. Ilmu ini dapat memenuhi kebutuhan pribadi manusia, dapat menemukan diri sendiri serta memahami realitas dimana manusia merupakan bagian daripadanya. Disamping itu dapat juga memenuhi rasa dan hasrat intelektual, ingin tahu tanggung jawab social (Ricard E. Creel, 1977, hal 1-13).

Max Muller dalam bukunya “Introduction to science of religion” mengatakan bahwa memperbandingkan agama yang satu dengan agama lainnya banyak gunanya, antara lain:

  1. Mengetahui ajaran agama lain sangat untung bagi agama si peneliti sendiri, sehingga menguatkan keyakinannya karena dapat membandingkan mana yang lebih baik.
  2. Ilmu ini telah menempatkan agama pada tempat yang semestinya diantara agama-agama yang begitu banyak. Kemudian menunjukkan maksud dari ajaran agama itu sehingga menambah penghayatan kebenaran dan ciri sakralnya.
  3. Ilmu ini tidak menggoncangkan dasar pegangan dan landasan berpijak si peneliti itu berdiri.
  4. Bagi juru dakwah dan penerang agama, ilmu ini sangat membantu memperkenalkan agama lain sebagaimana mestinya.
  5. Ilmu ini menumbuhkan rasa menghargai kepercayaan dan agama lain, karena dapat memperlihatkan perbedaan antar agama.

Ricard E Creel menetapkan garis bagi seorang ahli ilmu perbandingan Agama tidak boleh apologis karena:

  • Untuk menjadi ahli ilmu perbandingan agama tidak hanya dibatasi oleh pendidikan tinggi.
  • Harus tidak memihak kepada agama tertentu dan tidak perlu khawatir terpikat dengan ajaran agama lain.
  • Seorang ahli ilmu perbandingan agama dalam memperbandingkan gejala agama mungkin saja tertarik untuk mempraktikkan sesuatu ajaran dalam konteks non apologetic. Untuk itu perlu mengidentifikasi tugas-tugas misalnya:
  • Mengidentifikasi tema dan elemen yang ada dalam agama pada umumnya, seperti ritus, mythos, korban, symbol agama.
  • Memperlihatkan keanekaragaman bentuk-bentuk ritus, mythos, korban, symbol agama.
  • Membanding dan mempertentangkan tema dan elemen tersebut.
  • Harus bertindak sebagai wasit antara tradisi dan ajaran agama, sehingga tercapai pemahaman yang akurat dan mendalam. Dengan demikian, akan terungkap term dan konsep yang diperlukan.

Khusus untuk kaum muslimin kegunaan dan faedah ilmu perbandingan agama begitu besar terutama kepada para Mubaligh dapat mengetahui persamaan dan perbedaan antara agama Islam dengan agama lian. Sehingga dapat dibuktikan, dimana segi-segi agama Islam melebihi agama lain. Agama-agama sebelum Islam lebih merupakan pengantar kebenaran terhadap kebenaran yang lebih penting yaitu Islam. Timbullah rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapat petunjuk tentang kebenaran asli. Dengan demikian akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan kebenaran Islam kepada masyarakat ramai.

Baca Juga:  Pentingnya Pendidikan Komputer di Sekolah

Dari satu segi Ilmu Perbandingan Agama,bisa berbahaya bagi Islam bila salah menempatkannya. Tetapi sangat membantu Islam bila penempatannya tepat. Dengan dasar ilmu perbandingan agama, apologis Muslim menciptakan cara baru dalam mempertahankan Islam, minimal senjata ofensif dan defensive lebih kuat dibandingkan masa sebelumnya.

Dengan adanya ilmu ahli agama Islam akan terbuka cakrawala nalar, mempertajam pikiran sesudah melakukan perbandingan ajaran, sehingga lebih memudahkan memahami isi ajaran Islam sendiri, Dengan perantara pemahaman isi dan pertumbuhan agama lain. Di samping itu orang muslim akan belajar mempergunakan terminology dan istilah agama secara sederhana dan tidak membingungkan, apalagi agama Islam itu mudah dan sederhana, namun banyak Istilah yang membingungkan insan non muslim. Islam adalah agama yang sudah final dapat diketahui bila dibandingkan dengan agama lain. Kesempurnaan Islam dapat dipelajari melalui “Quranis, ethis, philosofis dan pragmatis. Islam tidak memerlukan interpretasi baru, yang penting kesanggupan menggali berbagai ajaran yang terpendam dan dituangkan dalam istilah sederhana sehingga mudah dipahami. (Baca, A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, Yogyakarta: Nida, 1970 hal, 38-40).

Aliran-Aliran dalam Ilmu Perbandingan Agama

A. Evolutionism

Aliran ini berpendapat bahwa agama itu timbul bukan dari monotheisms menuju ke kesempurnaannya yaitu monotheisms sebagai bentuk terakhir dari kepercayaan dan agama manusia. Aliran ini dipelopori oleh Max Muller dengan pendapatnya, agama itu berasal dari kepercayaan penyembahan alam yang henoteistis menurun menjadi politeistis, turun lagi kefetisyisme, lalu meningkat menuju pantheistis atau theism (Encyclopedia Britannica, Vol. XVII, 1975, hal. 617). Pandangan Max Muller yang termaktub dalam bukunya “Sacred Books of The Best” ditentang kawannya, E. B. Taylor dengan bukunya “Primitive Culture”. Ia mengatakan evolusi agama itu bermula dari animism sebagai bentuk asli agama, kemudian berkembang menjadi fetisisme, percaya kepada hantu, polytheism, dan akhirnya monotheism. Demikian pula halnya Sir James Frazer agama itu berevolusi dari magic kepada agama dan dari agama kepada ilmu pengetahuan. Pendapat ini dikemukakannya dalam buku “Golden Bough”. Pandangan ini didukung pula oleh August Comte tentang tiga tingkatan perkembangan intelektual manusia yaitu tingkat theology, metafisika dan positif.
Hyotesa evolusioner ini mendapat sambutan dari Herbert Spencer dalam bukunya: “Principle of Sociology” (1877). Parallel dengan aliran tersebut dikemukakan pula teori totemisme oleh Robertson Smith dalam bukunya Religion of The Semites (1889) yang menjadikan totemisme sebagai factor penting dalam asal usul agama. Teori ini diikuti pula oleh Lubbock dalam bukunya “The Origin of Civilization and The Primitive Condition of Man” demikian pula Jevons.
Andrew Lang juga mengkritik teori Muller dengan mengemukakan teori monotheism asli dan murni (urmonotheisme-primordial monotheism). Teori evolusi ini demikian merata perkembangannya dalam soal agama sehingga penulis Kristen turut membenarkannya. Sebagaimana tulisan G. G. Atkin dalam bukunya “Processing of Gods” mengatakan bahwa selama ini ada suatu pandangan, agama itu mulai dengan kepercayaan kepada satu Tuhan, kemudian karena kesalahan dan ketidaktaatan manusia, wahyu yang ada menjadi kabur dan hilang. Sebenarnya agama itu bukan suatu kemunduran, pemujaan kepada kayu, batu atau benda alam bukanlah agama yang jatuh ke dalam kegelapan, tetapi timbul dari kegelapan. Perjalanan Tuhan ke depan tidak pernah ke belakang. Kepercayaan kepada kegelapan dan terang bukanlah suatu ketiduran atau kelupaan, tetapi suatu kesadaran agama, tingkah laku pertama memohon kepada sesuatu yang tidak terlihat manusia (hal. 5). Demikian pula E.D. Soper dalam bukunya “Religions of Mankind’s” menyatakan: Orang Kristen, Yahudi dan Islam menduga adanya wahyu Tuhan yang sederhana. Tidak ada yang dipermasalahkan. Tetapi faktanya tidak kokoh, Injil tidak memberikan keterangan yang membawa kepada konklusi tersebut. Yang ada hanya upacara agama, tidak ada keterangan tentang asal usul agama. Adanya pandangan manusia menerima watak agama dari Tuhan bertentangan dengan keterangan bahwa manusia ini telah dilengkapi dengan ide-ide agama yang lengkap. Teori-teori evolusi memberikan keterangan lain tentang manusia pertama sehingga tidak sesuai lagi pendapat yang mengatakan bahwa ada wahyu kurang atau tidak lengkap atau di ubah (hal. 29-30)
Dari pandangan sarjana tersebut di atas, jelaslah bahwa agama Yahudi membawa konsepsi keesaan Tuhan karena proses evolusi. Yahweh Tuhan mereka sejak semula merupakan Tuhan suku Madyan di Sinai (Bukit Tursina). Musa mengenal Tuhan Yahweh melalui pendeta Kan’an bernama Jetro (Nabi Syuib). Jadi wahyu turun di Sinai menunjukkan bahwa Israel-lah yang memilih Yahweh, bukan Tuhan Yahweh memilih Israel. Ajaran Musa pun merupakan proses, sebab ajarannya kemudian dilanjutkan oleh Nabi-nabi Israel yang lain menyempurnakan konsepsi ketuhanan yang lebih tinggi sebagai Tuhan dan ajaran moral yang lebih universal.
Membicarakan teori evolusi asosiasi manusia langsung tertuju kepada Charles Darwin yang dianggap sebagai nenek moyang teori ini (1809-1882) yang menciptakan “The Origin of species by Means of natural selection (1859)”. Tetapi sejarah membuktikan bukanlah Darwin pencipta pertama teori ini. Dalam abad XVIII George Cabanis telah memperlihatkan teori ini dalam lapangan kemanusiaan. Demikian pula filosof Markis de Condorcet tahun 1796 menyatakan kepercayaan manusia memiliki potensi untuk berkembang ke arah yang tidak terbatas baik memajukan berpikir maupun lainnya. Kendatipun demikian menurut B. Bury dalam bukunya “The Idea of Progress” (1955), evolusionisme waktu itu masih dalam taraf pendahuluan yang hanya diketahui oleh filsuf dan ahli sejarah. Usaha ini dilanjutkan oleh para sosiolog dan ahli ilmu alam Barat. Barulah pada pertengahan abad XIX tampil Darwin.
Charles Darwin tampil pertama sesudah melihat kenyataan bahwa tumbuhan dan hewan itu berasal dari bentuk dasar yang sederhana. Darwin ingin membuktikan teorinya dengan menerangkan asal usul benda-benda tersebut. Dia berkesimpulan bahwa makhluk hidup itu dapat hidup langsung karena berhasil mempertahankan diri. Mereka mengetahui bagaimana cara menyesuaikan diri, sifat yang tidak berguna dibuang. Sifat yang berguna itu diwariskan kepada keturunan berikutnya. Ia hanya menerapkan teorinya pada botani dan zoology saja, karena tidak berani mengaplikasikan kepada manusia. Tetapi menurut F. Sassen, Darwin kemudian terpengaruh dengan filosof alam Inggris Thomas Huxley, sehingga ia kembali menyelidiki manusia berdasarkan “Natural Selection” tadi. Ia menempatkan manusia seperti hewani lainnya baik akal budi, kesadaran moral dan agama berdasarkan perkembangan evolusionisme.
Memang teori ini dalam penelitian agama sangat parallel bila tidak dipengaruhi oleh teori Darwin, karena tidak semua hal sesuai dengan teori tersebut.

Baca Juga:  5 Pilar Islam

B. Aliran Urmonotheisme

Teori evolusionisme sangat sesuai dengan dasar ilmu botani, zoology, dan fisika, tetapi tidak sesuai dengan agama. Penelitian agama hanya cocok dengan teori monotheism murni (primitive monotheism).
Aliran ini berpendapat agama tidak melalui evolusi dari bertuhan banyak sampai bertuhan satu, sebab agama sejak dahulu monoteistis.
Masyarakat primitif sendiri sejak dahulu sudah monoteistis. Hal ini dibuktikan oleh Andrew Lang dalam bukunya “The Making Religion” (1898) bahwa dalam suku primitif ditemukan kepercayaan kepada wujud yang agung, walaupun mereka masih biadab, sama monoteisnya dengan orang Kristen. Mereka punya wujud Agung dan sifat-sifat khas ketuhanan yang tidak diberikan kepada benda-benda lain yang ada.
Teori monotheism murni ini dapat mengatasi teori evolusi secara berangsur-angsur dan akhirnya reda. Apalagi beberapa sarjana barat menolak teori evolusi sebagai kunci memahami agama seperti William Schmidt dan lain-lain. Kesimpulan merekaa ide adanya tuhan tidak datang secara evolusi, tetapi dengan wahyu. Sebab dalam penelitian mereka membuktikan asal usul kepercayaan primitif adalah monotheism, karena ajaran wahyu dari Tuhan.
William Schmidt walaupun ia seorang pendeta Katholik yang ahli etnologi, uraian tulisannya yang berjilid-jilid itu tidak disandarkan pada ayat-ayat kitab suci Bible, tetapi secara antropologi, baik atas dasar penelitiannya sendiri ataupun tulisan-tulisan sarjana-sarjana sezamannya, yang meneliti secara luas dan merata, bermacam-macam golongan dan suku ia berkesimpulan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Agung dan Esa merupakan bentuk tertua. Keberadaannya mendahului elemen naturalism, fetisyism, penyembahan setan, animism, totemism dan magism.
Pendapat William Schmidt ini mendapat dukungan sarjana-sarjana barat, seperti Frederick Schleiter dengan bukunya “Religion and Culture” (1919), J. Huizenga dari University of Utrecht (1927), Briault (1929), K. L. Bellon dari Nymegen University (1924) dan lain-lain. Memang ada yang coba menentang pendapat tersebut seperti J. J. Fahrenfort dari Groningen University (1927) dengan alasan buktinya tidak mencukupi hanya didasarkan pada prasangka saja. Tetapi reaksinya berhenti sesudah Schmidt menjawabnya secara kontan (1928).
Pembicaraan masalah evolusi ini bukan hanya berkembang di Barat, ahli pikir Muslim pun tidak tinggal diam. Muhammad Abduh (1849-1905) misalnya juga menggunakan teori evolusi dalam analisanya tentang wahyu dan risalah (kerasulan). Dalam bukunya “Risalat At-Tauhid” (1897) dan beberapa pendapatnya yang dikumpulkan muridnya Syeikh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) dalam “Tafsir Al-Manar” ia berpendapat bahwa wahyu yang diberikan kepada rasul-rasul itu secara evolusi. Rasul-rasul terdahulu adalah rasul-rasul “nasional”, diberikan wahyu sesuai dengan kecerdasan masyarakat zamannya. Wahyu ini terus berkembang dari satu rasul kepada rasul yang lain. Ada yang diutus untuk satu kaum, ada anya dalam waktu terbatas. Tetapi akhirnya ketika Rasul Muhammad Saw di utus sempurnalah wahyu tersebut sebagai rasul terakhir, universal untuk seluru umat manusia. Teori evolusi ini tidak berlaku dalam masalah aqidah Tauhid.
Demikian pula Ameer Ali dalam bukunya “The Spirit of Islam” (1922) dan Muhammad Iqbal dalam “The Reconstruction of Religius Thought in Islam” (1944), dan masih banyak banyak lagi sarjana-sarjana muslim lainnya. (A. Mukti, 1970, hal. 19-27).

Terima Kasih.

Catatan: Tulisan ini ditulis kembali dari buku Gejala-Gejala Agama Jilid I, Karangan Husainy Isma’il, Penerbit: Syiah Kuala University Press Darussalam Banda Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *